Menyambut kunjungan kerja reses anggota Komisi X DPR RI, Wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meminta untuk dibukanya Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK khusus formasi pustakawan. Hal tersebut disampaikan mbak Ita, sapaan akrabnya di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Rabu (4/10).
Kunjungan kerja reses tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan rapat DPR RI di daerah-daerah. Kegiatan kali ini memiliki fokus agenda mengenai bidang pengawasan serta untuk mendapatkan masukan ataupun aspirasi dari masyarakat terkait kebijakan dan program pemerintah.
Mbak Ita menuturkan adanya pembukaan PPPK untuk Pustakawan dinilai penting, mengingat Pemerintah Kota Semarang sendiri sudah tidak bisa mengangkat pegawai Non ASN (Aparatur Sipil Negara). Terlebih lagi, pustakawan mempunyai tugas dan tanggung jawab yang vital dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
“Alhamdulillah hari ini, komisi X hadir kembali ke kota Semarang. Tentu tadi sudah banyak mendapat masukan utamanya terkait Undang-Undang ASN, karena ada juga pihak universitas di sini dan sudah terjawab semua. Kami tadi juga minta agar dibukanya PPPK khusus untuk pustakawan, karena pemerintah kota Semarang sudah tidak bisa mengangkat untuk non ASN,” ucap Mbak Ita.
Lebih lanjut, dirinya ingin perpustakaan di kota Semarang berada di dekat dengan pusat pendidikan. Dengan begitu, masyarakat tidak malas untuk pergi ke perpustakaan karena alasan jarak. “Harapan kami sebenarnya, kenapa kami menempatkan perpustakaan (Tirto Agung) di dekat universitas dan politeknik agar tidak muspro (sia-sia). Kita belajar dari masalah di DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) yang jauh. Memang tempat luas dan sesuai aturan, tetapi tidak diinginkan masyarakat,” ujar Mbak Ita.
Di sisi lain, Wali kota perempuan pertama di kota Semarang tersebut kembali menyampaikan aspirasinya kepada anggota komisi X DPR RI perihal persyaratan pembangunan perpustakaan. Menurutnya, syarat-syarat pembangunan perpustakaan tersebut kurang bisa mengakomodir kebutuhan generasi muda dan kurang bisa melihat situasi di lapangan.
“Kami akan mencoba lagi dan memahami (Syarat Pembangunan Perpustakaan), kalaupun ada luas tanah di atas 3.000 meter kemudian harus gedung semua. Ya, pasti dapetnya asetnya pemkot di luaran tengah kota. Ini yang mungkin dari pusat juga harus bisa memahami sehingga win-win solution. Sehingga bisa dibangun perpustakaan yang sesuai standar, tetapi juga bisa mengakomodir kebutuhan anak-anak milenial sekarang,” tandasnya.
Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI ke Kota Semarang tersebut, turut dihadiri juga oleh Kepala OPD Pemerintah Kota Semarang, berbagai perwakilan kampus di Kota Semarang, tokoh-tokoh, para pakar pendidikan, budayawan, pegiat pariwisata, pemuda, olah ragawan, dan berbagai organisasi yang memiliki gerak yang sama dengan Komisi X DPR RI. (*)
Selain itu, dalam kunjungan tersebut, Wali Kota Semarang juga mengundang Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Kota Semarang, Bapak Bahrul Ulumi S.Ag., SS., M.Hum, yang memainkan peran yang sangat kuat dan penting dalam diskusi ini. Bahrul Ulumi, seorang tokoh pustakawan yang berpengalaman, tidak hanya hadir sebagai perwakilan dari organisasi pustakawan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang berharga tentang tantangan dan potensi dalam dunia perpustakaan. Dalam pidatonya, Bahrul Ulumi dengan lugas menyampaikan aspirasinya, menekankan betapa pentingnya dukungan terhadap perkembangan dunia perpustakaan dan pustakawan. Keberadaannya menjadi tonggak kuat dalam membawa perspektif yang beragam dan mendalam dalam pembahasan ini, dan memberikan wawasan yang sangat berharga bagi anggota Komisi X DPR RI serta hadirin lainnya dalam memahami urgensi pembukaan PPPK khusus untuk pustakawan dan penyempurnaan persyaratan pembangunan perpustakaan di Kota Semarang.
Dalam kunjungan kerja reses bersama Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, saya, Bahrul Ulumi S.Ag., SS., M.Hum, mengusulkan dua hal yang sangat penting untuk kemajuan masyarakat dan pengembangan pendidikan di kota ini yaitu yang pertama, Pembangunan Gedung Perpustakaan Umum Kota: Saya sangat mengusulkan agar pemerintah memprioritaskan pembangunan gedung perpustakaan umum kota. Pembangunan ini memiliki peran penting sebagai ruang publik yang dapat memfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Gedung perpustakaan bukan hanya sekadar tempat untuk menyimpan buku, tetapi juga merupakan pusat kegiatan sosial dan intelektual. Melalui gedung perpustakaan, masyarakat dapat berkumpul, berdiskusi, dan mengeksplorasi sumber daya informasi yang tersedia. Meskipun informasi digital semakin mudah diakses, kita tidak boleh melupakan pentingnya tempat fisik yang nyaman untuk membaca dan belajar. Masyarakat, terutama anak-anak, memerlukan tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca dengan fokus, dan gedung perpustakaan dapat memberikan lingkungan yang sesuai untuk aktivitas tersebut.
Kedua, Penambahan Formasi Pustakawan dan Skema P3K: Selain pembangunan gedung perpustakaan, saya juga mengusulkan peningkatan formasi pustakawan di sekolah dan penerapan skema P3K (Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Karir) untuk pustakawan. Pustakawan adalah elemen penting dalam pengelolaan perpustakaan dan pemberian layanan informasi kepada masyarakat. Dengan meningkatkan jumlah pustakawan di sekolah-sekolah, kita dapat memastikan bahwa fasilitas perpustakaan sekolah berfungsi dengan baik dan mampu memberikan layanan yang berkualitas kepada siswa. Selain itu, melalui skema P3K, pustakawan dapat mendapatkan pelatihan dan pengembangan karir yang akan meningkatkan kompetensinya dalam mengelola perpustakaan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung.
Dengan melaksanakan kedua usulan ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk pendidikan dan perkembangan masyarakat di Semarang. Perpustakaan akan menjadi pusat pengetahuan dan budaya yang memajukan kota ini, sementara pustakawan yang berkualitas akan menjadi garda terdepan dalam mendukung pembelajaran dan akses informasi bagi seluruh warga kota. Terima kasih atas perhatiannya, dan mari bersama-sama memajukan pendidikan dan literasi di kota Semarang.


